by

Smart City di Era Revolusi Industri 4.0

Semarang – Industri mengalami perubahan teknologi, yang sangat cepat. Pada revolusi industri 1.0, dunia mengenal teknologi kereta mesin uap, ditandai dengan terjadinya proses ekspor impor besar besaran baik orang maupun barang. Selanjutnya revolusi industri 2.0, ditemukan listrik dan lampu sehingga manusia bisa bekerja 24 jam tanpa takut gelap. Sementara, revolusi industri 3.0, didasarkan pada penemuan komputer berupa seperangkat alat teknologi yang bisa menyimpan dan mengolah data secara digital.

“Sekarang, kita mengenal revolusi industri 4.0, dengan adanya penemuan internet sehingga manusia bisa mengatur kehidupan, kerja, dan segala sesuatunya melalui koneksi internet (internet of things),”papar Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., MBA., MPhil., MA., dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SNST) ke-10, di kampus 1 Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), Menoreh, Sampangan Semarang, Rabu 31 Juli 2019.

Dalam seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik UNWAHAS yang bertemakan ‘Smart City di Era Revolusi Industri 4.0’ tersebut, Guru Besar bidang Informatika  sekaligus pakar IT ini mencontohkan. “Dahulu orang berkirim surat lewat pos dengan perangko, kini melalui telepon genggam, hingga media sosial seperti Facebook dan Whatsapp,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan, kini sudah banyak kota besar ataupun satelit di Indonesia yang mulai berkembang dan bertransformasi  menjadi smart city (kota pintar), untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

Smart city merupakan sebuah visi pengembangan perkotaan, untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan teknologi Internet of things (IoT), dengan cara yang aman untuk mengelola aset kota.

“Pemerintah dan warganya bisa mewujudkan kota impian yang aman, nyaman, sehat, sejahtera, berbudaya, dan beradab dengan slogan smart city,” tandasnya.

Dirinya mencontohkan, saat ini sudah banyak aplikasi yang diterapkan dalam menerima laporan dari warga melalui layanan online. Termasuk juga dalam pelayanan izin, hingga pendaftaran sekolah menggunakan sistem online.

“Ini era revolusi industri bergerak cepat memasuki babak baru menuju revolusi industri 5.0. Bentuknya juga berupa pemanfaatan teknologi sensor, setelah sebelumnya muncul komputer dan internet. ‘Kondisi ini menjadi tantangan dunia kampus untuk juga melahirkan pemikiran maupun karya inovatif,” tandasnya. Penjelasan paling sederhana mengenai smart city yaitu memanfatkan IoT sebagai pancaindera sebuah kota untuk menjalankan aktifitas keseharian dengan menggabungkan HiTech dan HiTouch

Setelah sesi presentasi yang menarik dan interaktif dilanjutkan sesi diskusi dan tanya jawab dari peserta seminar dengan sangat antusias. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan sesi pararel, tercatat ada sebanyak 131 artikel telah lolos seleksi dan dipesentasikan.

Artikel tersebut terbagi dalam delapan bidang, yaitu kimia dan pangan sebanyak 9 artikel, energi (9), farmasi dan kesehatan (7), material dan perancangan (19), manufaktur dan teknik industri (13), teknik informatika (48),  elektronika (16), serta teknik sipil dan arsitektur (10).

Artikel yang telah dipresentasikan akan diterbitkan dalam buku prosiding ber-ISBN yang terindeks di Scholar Google dan Portal Garuda Dikti, yang diunggah di laman publikasiilmiah.unwahas.ac.id.

Sementara, Rektor Unwahas Prof Dr Mahmutarom SH MH, mengapresiasi positif kegiatan seminar call for paper yang ke-10 ini. “Ini menjadi upaya, untuk mewujudkan UNWAHAS menjadi smart campuss. Langkah itu, salah satunya dikembangkan melalui gerbong program studi Teknik Informatika,” pungkasnya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed